Awal budaya Ngafe
Budaya nongkrong ternyata bukan hanya milik anak muda masa kini. Di abad 18 Masehi, ngerumpi sambil minum kopi sudah dilakukan kaum borjuis di coffee house. Sama halnya dengan para eksekutif menghabiskan happy hour, kaum borjuis juga membicarakan berbagai hal bersama kolega yang sama-sama berasal dari kelas atas.Kopi sebagai minuman teman ngerumpi memang tidak disangsikan lagi. Bahkan digambarkan lebih memabukkan dari seribu ciuman! “Oh, betapa nikmatnya kopi! Lebih indah dari seribu kecupan, jauh lebih manis dibanding anggur! Aku harus menikmati kopiku” begitu menurut Johann Sevastian Bach (1732) dalam Kaffee-Kantate.Minuman yang tak hanya dinikmati sebagai teman berbincang ini juga teman setia mereka yang harus begadang. Makanya, di akhir abad IX oleh orang Arab minuman ini diberi nama qahwa. Artinya, menjaga agar tak jatuh tidur.Konon, kopi ditemukan pertama kali oleh seorang penggembala bernama Kaldi. Suatu ketika dia melihat domba piaraannya jadi hiperaktif. Setelah diselidiki ternyata sang domba makan “buah cherry”. Dia kemudian mencoba buah aneh itu. Ternyata nikmat dan menyegarkan. Kejadian ini terjadi di Ethiopia sekitar tahun 850 .
Kopi kemudian menyebar ke Jazirah Arab. Di kawasan yang penduduknya mayoritas muslim ini, kopi dijadikan sebagai pengganti minum anggur, yang dilarang dalam ajaran Islam. Oleh orang Arab benihnya tak disebarkan. Setiap kopi yang keluar dari Arab harus sudah harus dimasak. Namun rahasia ini tak bisa dipendam selamanya. Oleh Baba Budan, kopi dibawa ke Mysore, India. Di seberang lautan itu, dia bertanam kopi.
Cerita tentang kopi kian menarik saat Turki di bawah pemerintahan Ottoman. Saat itu, Sang Sultan membolehkan istri menceraikan suaminya jika sang suami tidak mampu menyediakan kopi setiap harinya!
Di negara yang hingga kini dikenal dengan Turk Kahuesi alias kopi Turki-nya ini juga pertama kali berdiri toko kopi pertama, Kiva Han pada 1475. Di warung-warung kopi inilah orang-orang menemukan teman ngerumpi, sambil mendengarkan musik, melihat tarian, bermain catur, atau mendengar para pencerita. Sehingga tak heran jika warung-warung kopi itu dikenal sebagai “sekolah kebijakan” karena banyak hal yang bisa dipelajari di sana.
Kopi akhirnya menyeberang ke benua Eropa ketika duta besar Turki membawa minuman itu ke Istana Louis XIV di Paris sekitar 1669. Ia menawari sang raja untuk mencobanya. Tapi raja punya pilihan lain, ia justru mengambil cokelat panas. Maklum, kaum Nasrani kala itu menganggapnya sebagai minuman iblis.
Tapi desas-desus tentang minuman yang dibawa oleh umat Islam itu akhirnya dipatahkan oleh Paus Vincent III. “Kopi begitu nikmatnya. Sungguh sayang membiarkan kafir-kafir menggunakannya,” katanya saat mencicipi kopi.
Empat tahun kemudian, coffee house pertama berdiri di Italia dan Inggris pada 1652. Setelah itu, kopi menyebar ke seluruh daratan Eropa dan negara jajahannya, serta Amerika. Dan Indonesia yang ketika itu bernama Hindia Belanda mengenal kopi sekitar 1690.
Kini kopi bukan lagi minuman iblis yang bisa dinikmati golongan tertentu. Kedai kopi pun tak lagi milik kaum borjuis. Di hampir seluruh penjuru tempat di dunia, kita bisa mendapatkan secangkir kopi dengan mudah, asal punya uang. Bahkan di Indonesia, bagi yang tak punya waktu untuk ngopi, ada permen yang mengklaim sebagai permen gantinya ngopi.
anggoro gunawan
16 Juni 2002
Koran Tempo